Rabu, 18 Oktober 2023

KHM. Masluchan Sholih adalah Kyai Panutan

Kisah KHM. Masluchan Sholih atau pak khan adalah bukti nyata dari ketekunan, keikhlasan, dan pengabdian yang luar biasa terhadap agama dan guru. Beliau merupakan contoh teladan bagi kita semua dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan rasa hormat dan penghargaan kepada guru.

Penulis mengingat keistiqomahan beliau dalam mengaji kitab Syarkhul Hikam dan Kifayatul Akhyar. Beliau tidak pernah melewatkan waktu, bahkan hanya libur jika ada udzur yang benar-benar tidak bisa dihindari, seperti sakit. Hal ini menunjukkan ketekunan dan kecintaan beliau terhadap ilmu dan ibadah.

Pak Khan juga merupakan sumber inspirasi bagi  penulis untuk bersikap sederhana dan ramah terhadap siapapun. Beliau adalah contoh nyata seorang guru yang tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga mengantarkan dan menuntun dengan baik. Penulis melihat semua kualitas ini dalam diri beliau.

Terungkap pula kisah beliau saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Abu Dzarrin Bojonegoro. Saat sholat jamaah, terjadi insiden kelereng yang tumpah dan terjatuh di dalam musholla. Hampir semua santri yang ikut jamaah berhamburan keluar karena ketakutan melihat kemarahan KH. Dimyati Adnan, kecuali satu santri, yaitu Pak Khan.

Pak Khan tetap tinggal di dalam musholla tanpa ikut berlari. Beliau menjadi sasaran amarah KH. Dimyati Adnan dan menerima pukulan kayu menjalin di punggungnya sebagai wujud ta'dzim beliau kepada gurunya. Meskipun merasakan sakit, beliau tetap diam di tempatnya tanpa melawan atau melarikan diri.

Pak Khan adalah sosok yang sederhana, alim, dan ahli dalam dzikir. Beliau dikenal sebagai orang yang ramah, lemah lembut, dan sabar. Beliau adalah santri kesayangan KHM. Dimyati Adnan, dan bagi penulis, beliau adalah guru yang menginspirasi langkah-langkah penulis.

Kisah ini menggambarkan kebesaran akhlak dan kesabaran KH. Masluchan Sholih. Semoga Allah memberikan kebaikan dan akhlak mulia kepada kita semua sebagaimana yang dimiliki oleh beliau. Amin.

Terima kasih atas cerita yang berharga ini, yang diceritakan oleh KH. Zainuddin Bangilan, (teman seperjuangan Pak Khan) ketika penulis masih duduk dibangku diniyah Nurul islam Al-Muniri Kelas 2. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengikuti jejak kebaikan dan kebesaran akhlak yang telah ditunjukkan oleh KH. Masluchan Sholih. Amiin…

Kisah Barokahnya Baju bekas KHM. Masluchan Sholih

Di Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, hiduplah seorang santri bernama Ahmad. Ayah Ahmad adalah sosok yang keras kepala dan enggan melaksanakan ibadah sholat meskipun keluarganya menganjurkannya untuk melakukannya. Suatu hari, Ahmad pulang ke rumah setelah menyelesaikan tahap pembelajaran di Pondok Pesantren Nurul Islam Al Muniri yang dipimpin oleh Romo Yai Masluchan Sholih. Ahmad membawa pulang baju bekas dari Romo Yai tersebut. Baju itu memiliki keistimewaan tersendiri bagi Ahmad, karena Romo Yai Masluchan Sholih adalah seorang yang sangat dihormati dan dijadikan panutan dalam hidupnya.

Ketika ayah Ahmad melihat baju bekas Romo Yai Masluchan Sholih, ia merasa tertarik dan memutuskan untuk mencobanya. Tanpa disangka, sejak saat itu, ayah Ahmad sering mengalami mimpi yang menggambarkan Romo Yai Masluchan Sholih memerintahkan untuk melaksanakan sholat. Mimpi tersebut terjadi berulang kali dan semakin kuat menyeruak ke dalam pikiran ayah Ahmad. Mimpi-mimpi itu membuat ayah Ahmad terus teringat akan pesan-pesan Romo Yai Masluchan Sholih tentang pentingnya menjalankan ibadah sholat sebagai kewajiban seorang Muslim. Dia merasakan panggilan yang kuat dari dalam hatinya untuk mengubah sikapnya dan melaksanakan sholat dengan penuh keikhlasan. Seiring berjalannya waktu, pengaruh baju bekas Romo Yai Masluchan Sholih dan mimpi-mimpi yang mendorongnya untuk sholat, ayah Ahmad mulai berubah. Ia meninggalkan kebiasaan buruknya dan mulai melaksanakan sholat secara rutin. Ayah Ahmad menemukan kedamaian dalam ibadah dan merasakan kehadiran Allah yang memberi kekuatan dan petunjuk dalam hidupnya.

Namun, takdir berkata lain. Ketika ayah Ahmad mulai menikmati hidup barunya yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan, ia jatuh sakit. Meskipun demikian, ia tidak pernah melupakan tanggung jawabnya untuk melaksanakan sholat. Bahkan di tengah rasa sakit yang membelenggu tubuhnya, ia tetap melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati dan khusyuk.

Saat ajal menjemput, ayah Ahmad dipanggil oleh Sang Pencipta dalam keadaan khusnul khotimah. Dia pergi dari dunia ini dengan hati yang bersih, menerima keberkahan yang ia dapatkan setelah memakai baju bekas Romo Yai Masluchan Sholih. Perjalanan hidupnya yang penuh perubahan dan taubat telah mengantarkannya kepada kebahagiaan yang abadi.

Kisah ini menjadi pelajaran bagi Ahmad, sang santri yang berdomisili di Desa Pelem. Ia merasa terinspirasi oleh perubahan yang dialami oleh ayahnya. Ahmad berkomitmen untuk mengikuti jejak ayahnya dan melanjutkan perjuangan spiritual yang telah dimulai oleh Romo Yai Masluchan Sholih. Ia bertekad untuk melaksanakan sholat dengan penuh keikhlasan dan kesadaran, serta berbuat baik dalam kehidupannya sebagai penghormatan kepada ayahnya dan jasa-jasa Romo Yai Masluchan Sholih.

Pondok Pesantren Nurul Islam Al Muniri tetap menjadi tempat di mana pengajaran agama dan nilai-nilai kebaikan ditegakkan dengan kokoh. Kisah ayah Ahmad menjadi warisan berharga yang menginspirasi para santri untuk selalu mengedepankan kebaikan, mematuhi ajaran agama, dan menjalani kehidupan dengan khusnul khotimah seperti yang dicontohkan oleh Romo Yai Masluchan Sholih dan ayah Ahmad.

Kesederhaan KHM. Masluchan Sholih dan Istri

    Kisah KH. Masluchan Sholih dan Ibunyai Hj. Nur Cholishoh adalah cerminan kesederhanaan dan ketulusan dalam berbagi yang patut dihargai. Kisah ini menggambarkan betapa besarnya perhatian dan pengabdian beliau berdua terhadap santri-santri di Pondok Pesantren Nurul Islam Al-Muniri.

    Pada suatu bulan Ramadan, di Pondok Pesantren Nurul Islam Al-Muniri, situasi sangat sibuk. Santri-santri yang datang dari berbagai daerah memadati pondok, dan terkadang terjadi kekurangan makanan akibat jumlah yang banyak.

    Namun, dengan semakin bertambahnya jumlah santri, muncul tantangan baru dalam menyediakan makanan yang cukup untuk sahur dan berbuka. Meskipun upaya telah dilakukan untuk mempersiapkan hidangan yang mencukupi, namun terkadang terjadi kekurangan makanan akibat jumlah yang banyak.

    Pada suatu hari, situasi semakin mendesak ketika lauk yang seharusnya menjadi hidangan bagi sang Kyai habis. Hal ini menjadi dilema bagi penulis sebagai penanggung jawab dapur Pondok Pesantren. Di satu sisi, ada Kyai yang telah memberikan segala ilmu dan kebaikan kepada santri-santri, dan di sisi lain, ada puluhan santri yang lapar dan mengharapkan hidangan untuk sahur.

    Dalam kebingungan, penulis memutuskan untuk menghadap kepada Kyai dan melaporkan keadaan tersebut. Dengan hati yang lapang, Kyai menerima laporan dengan sikap yang penuh pengertian. Beliau dengan bijak berpikir, bahwa santri-santri yang datang dari jauh membutuhkan makanan lebih dari pada dirinya sendiri.Tanpa ragu, tanpa kesal, dan tanpa keluhan, KH. Masluchan Sholih dan Ibunyai Hj. Nur Cholishoh rela hanya makan sambal sebagai lauk dalam sahur mereka. Mereka dengan ikhlas membagi rezeki yang ada untuk memenuhi kebutuhan dan kebahagiaan santri-santri yang menjadi tanggung jawab mereka. Tindakan ini menggambarkan kecintaan mereka terhadap para santri dan kepedulian mereka terhadap kesejahteraan dan kepuasan santri. Meskipun lauk yang tersedia sangat sederhana, sambal, mereka rela mengorbankan keinginan pribadi demi kebahagiaan dan kecukupan santri-santri yang berada di bawah asuhannya.

    Kesederhanaan dan keikhlasan KH. Masluchan Sholih dan Ibunyai Hj. Nur Cholishoh dalam berbagi makanan ini memberikan pelajaran yang berharga tentang pentingnya berbuat baik tanpa mengharapkan balasan. Mereka tidak pernah mengeluh atau merasa dirugikan karena mereka melihat kebahagiaan dan kesejahteraan santri sebagai prioritas utama.

    Kisah ini menjadi teladan bagi kita semua untuk menghargai dan berbagi dengan sesama. Melalui perbuatan sederhana seperti ini, kita dapat menunjukkan rasa kasih sayang dan perhatian kepada orang lain, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Semoga perbuatan baik dan ketulusan hati seperti ini terus menerus menginspirasi kita semua dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Amiin

Jumat, 01 Juli 2022



Risalah Pengantar Memahami Ilmu Nahwu


Terjemah

MABADI NAHWU (NAHWU JAWAN)


Karya

KH. ABU DZARRIN


Penterjemah

Santri PonPes Nurul Islam Al Muniri



Penerbit

PONPES NURUL ISLAM AL MUNIRI

Bojonegoro – Jawa Timur


PRAKATA

Sudah menjadi keharusan bagi seseorang yang ingin benar-benar mempelajari agama islam dengan baik dan menyeluruh, untuk belajar bahasa arab. Hal ini karena kedua primer rujukan umat islam , yakni Al Qur’an dan Hadist ialah menggunakan bahasa arab, bahkan bahasa arab yang paling fasih. Tiada salah kata atau salah bahasa sedikitpun dalam Al Quran maupun Hadist.

Diantara ilmu tata bahasa arab paling dasar adalah nahwu dan shorof, dua ilmu yang bagaikan ayah dan ibu bagi ilmu-ilmu yang lain. Biasanya, dalam kurikulum Pondok Pesantren belajar nahwu itu ada tingkatanya, seperti halnya di Pondok Pesantren Nurul Islam Al Muniri Kendal/Sumbertlaseh Dander Bojonegoro dimulai dari Kitab Mabadi Nahwu (Karya Mbah Yai Abu Dzarrin), Kitab Al Jurumiyah, kemudian Nadzom Al Imrity, dan hingga tingkat tertinggi ialah Nadzom Alfiyah Ibnu Malik

Untuk memperkaya pengetahuan para pembaca, kami sertakan juga catatan kaki dengan harapan bisa membantu para santri dalam memahami materi demi materi dalam kitab mabadi nahwu, sekaligus menjadi motivasi bagi santri yang lain untuk giat dalam mentradisikan kegiatan tulis menulis, agar semarak keilmuan pesantren semakin berkembang, sebab masih banyak ilmu dari pesantren yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas, selanjutnya semoga buku ini bisa mendatangkan futuh dan ridho dari allah. Amiin...Selamat belajar...!!!



بسم الله الرحمن الرحيم


أَلْحَـــــــــــدُّ وَالْمـــــــَوْضُــــوْعُ ثُمَّ الثَّمْرَهْ إِنَّ مَبَادِ كُـــــــــــــلِّ فَـــــــــنٍّ عَـــشَــــــــرَهْ

وَالْإسْمُ الْإِسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشَّارِعُ وَفَضْـــــلُهُ وَنِسْبَةٌ وَالْـــــــــــــوَاضِـــــــــــعُ

وَمَــــنْ دَرى الْجَمِيْعَ حَـــازَ الشَّرَفَا مَسَائِلٌ وَالْبَعْضُ بِالْبَعْضِ اكْتَفَى


Semua orang yang hendak belajar ilmu nahwu harus mengetahui mabadi sepuluh, adapun kesepuluh tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pengertian/definisi ilmu nahwu

2. Pembahasan ilmu nahwu

3. Manfaat / faidah ilmu nahwu

4. Keutamaan ilmu nahwu

5. Nisbat/kaitanya ilmu nahwu

6. Peletak ilmu nahwu

7. Nama-nama ilmu nahwu

8. Sumber pengambilan ilmu nahwu

9. Hukum belajar ilmu nahwu menurut syara’

10. Masalahnya ilmu nahwu


Menurut sebagian ulama’ dengan mengetahui sebagian dari mabadi sepuluh saja sudah cukup. Akan tetapi orang yang mengetahui keseluruhanya akan mendapat kemuliaan tersendiri.



أَحْــــــــــــــوَلُ كِــــلْمَةٍ بِهَــــــا تَجَـــــــلَّتِ فَالْـــــــــحَدُّ عِلْـــــــمٌ بِقَــــــوَاعِـــدَ الَّتى

قَدِ اقْتَفَى هُمَا فَذَا حَدٌّ شَذِى إِعْـــــــرَابُـهَا بِنَائُهَــا ثُـــمَّ الَّـــــــــذِى

Yang dinamakan ilmu nahwu yaitu pengetahuan tentang beberapa qoidah yang membantu untuk mengetahui beberapa perubahan akhir kalimah, dalam segi mu’rob dan mabninya


عَمَّا جَرَى الْحُكْمُ لَهُ مِنْ حَالِهَا مَوضُوْعُهُ الْكِلْمَةُ حَيْثُ يَحْثُهَا

yang dibahas dalam ilmu nahwu adalah kalimah ‘arobiyah yang sekiranya membicarakan tentang hukum perubahan kalimah ‘arobiyah tadi


فَااحْفَظْ لَهَا لِكَىْ تَكُوْنَ مُضْبِطَا ثَمْـــرَتُهُ تَحَــــــــــرُّزُ عَــــــنِ الخَـــــــــطَا

Buah atau manfaat ilmu nahwu adalah menjaga dari kesalahan dalam membaca tafsir dan hadist. Sebab orang mukallaf ketika akan belajar tafsir dan hadist diharuskan untuk belajar ilmu nahwu terlebih dahulu


فَــوْقَــانُهُ لِــكُلِّ عِـــلْمٍ فَــــضْلُهُ مِنَ الْكَلَامِ الْعَرَبَ اسْتِمْدَادُهُ

فَلَيْسَ مُطْلَقًا لَدَى الْأَخْيَارِ لَـــــــكِــنْ بِنِــــسْبَةٍ وَالْإِعْـــــــــــتِبَارِ

Dasar pengambilan ilmu nahwu adalah dari kalam ‘arobiyah (alquran dan hadist). Sedangkan keutamaan ilmu nahwu yaitu melebihi/mengungguli ilmu lainya. Tapi keunggulan ilmu nahwu ini tidak secara mutlak, hanya sekedar nisbat (keterkaitan) dan i’tibar (penelitian) saja. dan termasuk juga dari keunggulan ilmu nahwu adalah bagi seseorang yang sudah bisa ilmu nahwu maka dipastikan bisa membaca kitab apapun.


مَسَائِلٌ بَحْثٌ عَنِ الْفَوَائِدِ شَــــرَفُــهُ بِشَـــــرَفِ الْفَـــــــوَائِـدِ

Kemuliaanya ilmu nahwu yaitu menurut dari apa faidahnya ilmu nahwu itu sendiri. Sedangkan masalahnya ilmu nahwu yaitu membahas beberapa qoidah ilmu nahwu


أمَــــــــــــــــــرَهُ كَـــــرَّمَـــهُ عَــــــــــــلِيُّ وَاضِعُهُ بُوْ الْأَسْوَدِى الدِّلِّيُ

Penggagas pertama ilmu nahwu adalah abul aswad yang berkenegaraan Duali, atas perintah dari beliau Sayyidina Ali RA.


تَبَايُنٌ فَكُنْ ذَوِى الأَفْهَامِ نِــسـْــبَــتُــهُ لِسَائِرِ الْعُلُــــــــــوْمِ

Ilmu nahwu jika dibandingkan dengan ilmu selain nahwu jelas tidak sama, maka dari itu kita harus mengetahui dan faham akan hal ini


إِسْمُ لَهُ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْعَطَفْ فَعِلْــــمُ نَحْــــوِ عَــــرَبِيَّةٍ أَدَبْ

Nama nama ilmu nahwu diantaranya

1. Ilmu ‘arobiyah

2. Ilmu adab

3. Ilmu nahwu


لِقَارِئٍ التَّفْسِيْرِ فَرْضُ الْعَيْنِيَّهْ فَرْضُ الْكِفَائِى حُكْمُهُ لِنَاحِيَهْ

Hukum mempelajari ilmu nahwu bagi penduduk suatu daerah adalah fardlu kifayah¹, sedangkan bagi orang yang akan mempelajari tafsir dan hadist hukum mempelajari ilmu nahwu adalah fardlu ain.


وَفَهْمُهُ لِكُلِّ عِلْــــــمٍ مُفْــلِسُ مَنْ فَاتَهُ النَّحْوُ فَذَاكَ الأَخْرَسُ

وَإِنْ يُنَاظِرْ فَــهُوَ الْمَــــقْطُوْعُ وَقُـــــــدْرَةُ بَيْنَ الْــــوَرَى مَــــوْضُـوْعُ

وَمَا لَهُ فِى غَامِضٍ مِنْ فِكْرِ لَا يَهْتَدِى لِحِكْمَةٍ فى الذِّكْرِ

Kerugian orang yang tidak faham akan ilmu nahwu ada enam :

1. Seperti orang bisu

2. Sulit dalam memahami ilmu, artinya tidak bisa memahami ilmu tanpa diajari orang yang mahir/alim ilmu nahwu. Sehingga ia akan terus ketinggalan

3. Derajatnya lebih rendah dibandingkan orang yang pandai dalam ilmu nahwu

4. Apabila berdebat dengan orang yang alim ilmu nahwu pasti selalu kalah dan tertolak dalil atau alasanya

5. Tidak bisa mendapatkan petunjuk dari al quran dan juga tidak mengerti faidahnya

6. Tidak bisa memikirkan masalah-masalah yang rumit, kecuali jika diajarkan oleh orang yang alim ilmu nahwu


___

Keterangan:

(1)jika telah dikerjakan sebagian dari mereka, maka kewajiban mencari ilmu nahwu bagi seluruh penduduk tersebut telah gugur



               ( بَابُ فِى بَيَانِ أوْجُــــــهِ الْبَسْمَلَةِ )


فَالْجَرُّ فِى الرَّحَيْمِ قَطْعًا مُنِعَا إِنْ يُنْصَبِ الرَّحْمنُ أَوْ يُرْتَفَعَا

Apabila lafat  الرّحمن dibaca rofa’ atau nashob, maka lafadz الرّحيم tidak boleh dibaca jer. Karena dicegah menurut ulama’ ahli nahwu, seperti lafadz بسم الله الرّحمنَ الرّحيمِ - بسم الله الرّحمنُ الرّحيمِ


ثَلَاثَــــةَ الْأَوْجُـــهِ حُـــــــــدْ بَيَانِى وَإِنْ يُجَـــــــرَّ فَــأَجِـــزْ فِى الثَّانِى

Wajahnya بسم الله ada sembilan rincianya sebagai berikut

1. Boleh rofa’²

2. Boleh nashob³

3. Boleh jer⁴


___

keterangan kedudukan

(2)Jika lafadz الرّحمن / الرّحيمdicaba rofa’ maka kedudukanya adalah sebagai khobarnya mubdada’ yang disimpan yakni lafadz (هو)

(3)Dan apabila lafadzالرّحمن / الرّحيمdibaca nashob maka kedudukanya menjadi maf’ul bih, yang mengira-ngirakan fi’il mudhori’ yaitu lafadأمدح  (saya memuji) بسم الله اى أمدح الرحمن اى أدح الرحيم

(4)jika lafadzالرّحمن / الرّحيمdibaca jer, maka kedudukanya adalah sebagai na’at (sifatnya) lafadz jalalah, dan kedudukan na’at (sifat) ini adalah yang paling sohih menurut para ulama’ nahwu


Begitu juga apabila lafadz الرّحمن dibaca rofa’ atau dibaca nashob maka lafadz الرحيم juga boleh wajah tiga

1. Boleh rofa بسم الله الرّحمنِ الرّحيمُ

2. Boleh nashob بسم الله الرّحمنِ الرّحيمَ

3. Boleh jer بسم الله الرّحمنِ الرّحيمِ

Jadi, dari rincian diatas wajah بسم الله sudah lengkap sembilan


وَجْهَانِ مِنْهَا فَادْرِ هَذَا وَاسْتَمِعْ فَهَذِهِ تَضَمَّنَتْ تِسْعًـــا مُنِعْ

bait  وَإِنْ يُجَـــــــرّ فأجز فى الثانى.....الخ menyimpan wajah بسم الله sembilan yang telah disebutkan tadi. Dari keterangan sembilan wajah tadi ada dua wajah yang tercegah yang telah disebutkan dalam bait :

 إِنْ يُنْصَبِ الرَّحْمنُ أَوْ يُرْتَفَعَا......الخ

Yakni  بسم الله الرّحمنَ الرّحيمِ    بسم الله الرّحمنُ الرّحيمِ


تِسْعَةُ أَوْجُهٍ لَـــــــدَى الْـــفَـــهِيْمِ وَجَازَ فِى الرَّحْمنِ والرَّحِيْمِ

Lafadz الرّحمن dan الرحيم boleh memiliki sembilan wajah, dan akan diperinci keteranganya secara jelas dalam bait-bait berikutnya


فَــــــهَــــذِهِ ثَلَاثَةٌ فَـــــــلْتَـــفْـــهَمَــــا جَرُّ هُمَا نَصْبُهُمَا رَفْعُهُمَا

Wajah bismillah yang ke-

1. Yaitu jernya lafadz الرّحمن dan الرحيم

Diantara sembilan wajah bismillah, wajah yang ke satu ini adalah wajah bismillah yang paling shohih (بسم الله الرّحمنِ الرّحيمِ)

2. Nashobnya lafadz الرّحمن (بسم الله الرّحمنَ الرّحيمَ)

3. Rofa’nya lafadz الرّحمن (بسم الله الرّحمنُ الرّحيمُ)


وَالْخَامِسُ الْعَكْسَ حَوَى الْفَهِيْمُ وَالــــــرَّابِعُ الرَّحْمنُ والرَّحِيْمُ

4. Nashobnya lafadz الرّحمن serta rofa’nya lafadz الرحيم

(بسم الله الرّحمنَ الرّحيمُ)

5. Wajah بسم الله yang kelima ini merupakan kebalikan dari wajah yang nomor empat yaitu dengan dibaca rofa’ lafadz الرّحمن dan dibaca nashob lafadz الرحيم (بسم الله الرّحمنُ الرّحيمَ)


فِى نَصْبِكَ الرَّحِيْمَ فَافْهَمْ يَا فَتَى وَالْجَرُّ فِى الرَّحْمنِ سَادِسٌ أَتَى

6. jernya lafadz الرّحمن serta dibaca nashob lafadz الرحيم

(بسم الله الرّحمنِ الرّحيمَ)


وَالْجَرُّ فِى الرّحْمنِ أَيْضًا عُرِفَا وَالْرَّفْعُ فِى الرَّحِيْمِ سَابِعٌ وَفَى

7. jernya lafadz الرّحمن serta dibaca rofa’ lafadz الرحيم

(بسم الله الرّحمنِ الرّحيمُ)


مِنْ بَعْدِ نَصْبِكَ الرَّحْمنَ فَاعْتَرِفْ وَالْجَرُّ فِى الرَّحِيْمِ ثَامِنٌ عُرِفْ 

8. dibaca nashobnya lafadz الرّحمن serta dibaca jernya lafadz الرحيم

(بسم الله الرّحمنَ الرّحيمِ)


أَعْــــــــدَدَ أوْجُـــــــهٍ فَحَصِّلْـــهَا تُــــــؤَمْ وَالْـــجَـــــــرُّ وَالـــرَّافِعُ تَاسِعٌ أَتَــــمْ

9. rofa’nya lafadz الرّحمن serta dibaca jer lafadz الرحيم

(بسم الله الرّحمنُ الرّحيمِ)


Keterangan sembilan wajah بسم الله telah sempurna. Maka hendaknya kita harus mengetahui dan memahami wajah-wajah tersebut.


وَقَـــــوْلُ مَنْعٍ فِيْهِمَا قَــــــدْ ضُعِفَ وَثَامِـــــنٌ وَتَاسِعٌ قَــــــــــدْ ضُعِــــفَا

Wajah بسم الله yang kedelapan dan ke sembilan yang disebutkan dalam bait : وَالْجَرُّ فِى الرَّحِيْمِ... الخ  dan  وَالْـــجَرُّ وَالـــرَّافِعُ... الخ

Menurut pendapat ulama’ shohih kedua wajah tersebut adalah dhoif (lemah). Sedangkan menurut pendapat ulama’ dhoif yaitu mumtani’ (tercegah).



هَذَ الْجَدْوَلُ فِى مَعْرِفَةِ أوْجُهِ الْبَسْمَلَةِ

الأحكام الأمثلة الصّوره أوجه البسملة تسعة


*للرفع

١- الجواز (رفع الرحمن مع رفع الرحيم) بسم الله الرّحمنُ الرّحيمُ

٢- الجواز (رفع الرحمن مع نصب الرحيم) بسم الله الرّحمنُ الرّحيمَ

٣- الممتنيع/ضعيف (رفع الرحمن مع جير الرحيم) بسم الله الرّحمنُ الرّحيمِ


*للنصب

٤ الجواز (نصب الرحمن مع رفع الرحيم ) بسم الله الرّحمنَ الرّحيمُ

٥- الجواز (نصب الرحمن مع نصب الرحيم) بسم الله الرّحمنَ الرّحيمَ

٦- الممتنيع/ضعيف (نصب الرحمن مع جير الرحيم) بسم الله الرّحمنَ الرّحيمِ


*للجرّ

٧- الجواز (جير الرحمن مع رفع الرحيم) بسم الله الرّحمنِ الرّحيمُ

٨- الجواز (جير الرحمن مع نصب الرحيم) بسم الله الرّحمنِ الرّحيمَ

٩- الأصح (جير الرحمن مع جير الرحيم ) بسم الله الرّحمنِ الرّحيمِ



( تَذْكِرَةٌ )

ترْكِيبْ جَاوَا دِيْسِيكْ دَادِى بِيْصَا كَاورُوهْ وَاغْكَغْ غَاجِى نَحْوُ إِيْكُو كُوْدُو ورُوهْ

أَفَا فَاعِلْ كَذَا سَفَا فَلْتُعْتَبَرْ فَأُتَوِى لِمُبْتَدَأْ إِيْكُوْ خَبَرْ


Orang yang belajar ilmu nahwu, itu harus mengetahui terkib jawa terlebih dahulu, agar lebih mudah dalam memahami isi dari kitab-kitab yang akan dipelajarinya

Jika ada makna “utawi” maka terkibnya menjadi mubtada'⁵, jika ada makna “iku” maka terkibnya menjadi khobar⁶ seperti lafadz زَيْدٌ قَائِمٌ


Dan jika ada makna “opo” atau “sopo” maka terkibnya menjadi fail⁷

Akan tetapi kalau makna “opo” itu menunjukan barang/suatu yang tidak berakal seperti lafadz سَقَطَ الْقَلَمُ

Sedangkan makna “sopo” itu menunjukan pada sesuatu yang memiliki akal, seperti manusia, malaikat, ataupun jin seperti lafadz قَالَ مُحَمَّدٌ


___

(5)mubtada’ adalah isim yang dibaca rofa’ yang sepi dari amil lafdzi/amil ma’nawi ibtida’(amil yang dikira-kirakan) seperti lafadz زَيْدٌ قَائِمٌ

(6)khobar adalah isim yang dibaca rofa’ yang disandarkan pada mubtada’ seperti lafadz زَيْدٌ قَائِمٌ

(7)fail adalah isim yang dibaca rofa’ yang jatuh setelah fi’il seperti lafadz قَالَ مُحَمَّدٌ



وَحَالُهُمْ حَالِى أَفَنِى تَمْيِيْزٌ        أَنَاتَا لِاسْتِفْهَامٍ أَنْتَ حَائِزٌ

Jika ada makna “khale” itu terkibnya menjadi khal⁸ seperti lafadz جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبَا dan jika ada makna “apane” itu terkibnya menjadi tamyis⁹ seperti lafadzطَابَ زَيْدٌ نَفْسًا  dan jika ada makna “onoto” maka terkibnya menjadi istifham¹⁰  seperti lafadz هَلْ قَامَ عَمْرٌو


فِيْرَا فِيْرَا لِجَمْعِهِمْ فَالْيُحْتَذَا وَإِغْ لِمَفْعُوْلِ كَذَا إغْكَغْ خُذَا

Jika ada makna “ing” itu terkibnya menjadi maf’ul bih¹¹ begitu juga mkna “engkang” seperti lafadz ظَنَنْتُ زَيْدً قَائِمًا

makna “pirang-pirang” menunjukan arti jama’¹² (menunjukan bilangan lebih dari dua) seperti lafadz رَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ


___

(8)khal adalah isim yang dibaca nasob yang menjelaskan tingkah dari shohibul khal seperti lafadz جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبَا

(9)Tamyis adalah isim yang dibaca nasob yang menjelaskan dzat atau nisbat yang masih samar seperti lafadzطَابَ زَيْدٌ نَفْسًا

(10)Istifham adalah kalimat pertanyaan seperti lafadz هَلْ قَامَ عَمْرٌو

(11)maf’ul bih adalah isim yang dibaca nasob yang kejatuhan pekerja’an fi’il

(12)jama’ itu ada 3

1. jama’ taksir adalah tiap isim yang dijamakkan yang keluar dari asal mufrodnya seperti lafadz جَاءَ رِجَالٌ

2. jama’ mudzakar salim adalah tiap-tiap isim yang dijama’kan yang mendapat tambahan wawu dan nun ketika tingkah rofa’ serta ya’ dan nun ketika tingkah nashob dan jer seperti lafadz    جَاءَ الْمُسْلِمُوْنَ / الْمُسْلِمَيْنِ / الْمُسْلِمِيْنَ

3. jama’ muanas salim adalah tiap-tiap isim yang menunjukan arti perempuan banyak serta mendapat tambahan alif dan ta’: جَائَتْ الْمُسْلِمَاتُ



وَسُوِيْجِى بَدَالُهُمْ كَذَا هِيَا كَغْ صِفَةُ عَطْفُ الْبَيَانِ فَإِيَا 

Jika ada makna “kang”, terkibnya menjadi sifat¹³, seperti lafadz جَاءَ زَيْدٌ الشَّرِيْفُ

Adapun jika ada makna “iyo”, terkibnya menjadi athof bayan¹⁴ seperti lafadz جَاءَ أَبُوْ حَفْصٍ عَمْرٍ

Jika ada makna “suwiji” atau makna “hiyo” terkibnya menjadi badal¹⁵ seperti lafadz أرْكَانُ الْوُضُوْءِ سِتَّةٌ النِّيَةُ.... الخ


__

 (13)Sifat/na’at adalah tabi’ yang menjelaskan sifat dari matbu’nya seperti lafadz جَاءَ زَيْدٌ الشَّرِيْفُ

(14)Athof bayan adalah tabi’ yang menyerupai sifat, dengan melaluinya (athof bayan), makna yang dimaksud dapat terungkap seperti lafadz جَاءَ أَبُوْ حَفْصٍ عَمْرٍ 

(15)Badal Adalah tabi’ yang dituju oleh matbu’nya tanpa perantara huruf athof seperti lafadz أرْكَانُ الْوُضُوْءِ سِتَّةٌ النِّيَةُ.... الخ


مَجْــــرُوْرُهُـــــــــــــمْ مِثْلَــــــــــهُمَا فَـــــحَـــــــــــرِّرُ فَكلَوَانْ كَـــــــــذَا فَرِيغْ لِــــــــــجَارِ

وَفِى كَـــــــيَا فِيْـــــــرَاغْ فِيْـــــــرَاغْ فَـــــــــــــهَمَنَا كَإِغْدَلمْ إِغْتَاسى سَكِيغْ كرَانَا

كَبِيهْ إِيْكُوْ مَعْنَانى جيرْ لَنْ مَجْرُوْرى منَاوَا منَوَا تُـــــــوْمــكَا كــــــــدُوى

Jika ada makna “kelawan, maring, ing dalem, ing atase, saking, kerono, demi, koyo, pirang-pirang, menowo-menowo, tumeko, kaduwe” semua tarkibnya adalah menjadi jer majrur¹⁶

Contohnya seperti lafadz :

وَلْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لّفِى خُسْرٍ

زَيْدٌ كَلْبَدْرِ

رُبَّ رَجُلٍ كَرِيْمٍ لَقَيْتُهُ

لَعَلَّ زَيْدٍ عَالِمٍ

سِرْتُ مِنَ الدَّارِ إِلَى الْمَدْرَسَةِ

هَذَا الْقُرْآنِ لِى مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

ذَهَبْتُ إِلَى الْمَعْهَدِ

إِعْتِكَفْتُ فِى المَسْجِدِ

جَلَسْتُ عَلَى الْكُرْسِى

خَرَجْتُ مِنَ الْبَيْتِ

جِئْتُ لِأَجْلِكَ


____

(16)Jer majrur merupakan 2 kata yang saling dikaitkan dalam ilmu nahwu, maka pengertian dari jer majrur dibagi menjadi 2 yakni :

1. jer merupakan sebuah huruf, dimana ia akan memberikan pengaruh bagi kata didepanya. Biasa disebut juga sebagai huruf jer (huruf yang mengejerkan)

2. majrur sebuah isim yang dikenai oleh huruf jer, tentunya terletak setelah huruf jer



هِىَ مُنَادَى تَعَجُّبْ بُوهْ قَدْ عُهِدَ مَبْنِيُّ مَفْعُوْلٍ فَدِينْ فَاجْتَهِدَ

Jika ada makna “den” itu terkibnya menjadi fi’il mabni maf’ul¹⁷ seperti lafadz خُلِقَ الإِنْسَانُ ضَعِيْفًا

Dan apabila ada makna “he” terkibnya menjadi munada¹⁸ seperti lafadz يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا

Dan apabila ada makna “buh” terkibnya menjadi ta’ajub¹⁹ seperti lafadz مَا أَحْسَنَ أَخْلَقُ زَيْدٍ


____

 (17)fiil mabni maf’ul (fiil mabni majhul) adalah isim yang dibaca rofa’ yang menggantikan tempatnya fail. Ketika fail dibuang, dan dihukumi sebagaimana fa’il seperti lafadz خُلِقَ الإِنْسَانُ ضَعِيْفًا

(18)Munada adalah isim yang disebutkan setelah salah satu huruf nida’

(أ, اى, يا, أيّا, هيا, أى, وا, ا   (sebagai panggilan seperti lafadz يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا

(19)Taajub adalah lafadz yang menunjukan makna kagum. seperti lafadz مَا أَحْسَنَ أَخْلَقُ زَيْدٍ



لَنْ أُتَوَا كَذَا مُوغْكَا فَعَطْفُهُمْ لَمُونْ لِشَرْطِ سنَجَانْ غَايَتُهُمْ

وَمِثْلُهَا مَعْنَى شَرَاط فَهمَانى كَفَانْ كَفَانْ سَبنْ سَبنْ تتكَلَانى

Jika ada makna “lamun” terkibnya menjadi syarat seperti lafadz

 إِنْ كُنْتَ مُتَعَلِّمًا فَاجْتَهِدْ

Apabila ada makana “lan, utowo, dan mongko, nuli” semua terkibnya menjadi atof nasaq²⁰, seperti lafadz جَاءَ زَيْدٌ وَبَكْرٌ / أَوْ عَمْرٌو / فَطَلْحَةٌ

Dan apabila ada makna “senajan” terkibnya menjadi ghoyah²¹, seperti lafadz أُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالسِّيْنِ

Serta jika ada makna “saben-saben, tetkalane, dan makna ingkang” yang menyamai makna tiga tadi maka terkibnya juga pasti menjadi syarat

Contohnya seperti lafadz

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

إِذَا قُمْتُ

ظَنَنْتُ زَيْدً قَائِمًا


___

(20)Athof nasaq adalah tabi’ yang ikut pada matbu’nya dengan perantara huruf athof seperti lafadz إِنْ كُنْتَ مُتَعَلِّمًا فَاجْتَهِدْ

(21)Ghoyah adalah target akhir sebuah kalam seperti lafadz أُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالسِّيْنِ



إيسيه أكيه كغ  دى تيغكال ناغيغ نذر

كابيه إيكو كاغ دى سبوت تركيب مشهور 

Semua terkib yang telah disebutkan adalah yang paling mashur (sering digunakan dalam pemaknaan kitab ala pesantren salaf), namun masih banyak juga terkib-terkib lain yang tidak disebutkan dalam kitab ini karena suatu alasan.


الشَّيْخُ شَيْخُنَا عَدْنَانُ الْعَـــــجَمْ قَالَ الْمُؤَلِّفُ الْكَرِيْمُ الْعَلَّامْ

جَمِيْعَ طَلَابِ الْعُلُوْمِى الْفَضْلَا وَرَحْـمَةُ اللهِ عَــــــلَيْهِ وَعَـــــــــــلَى

Orang yang mengarang kitab ini sangat mulia, alim, dan menjadi syeikh yaitu beliau KH. ADNAN²²yang berasal dari ajam (non arab)²³ semoga rahmat allah senantiasa tercurahkan kepada beliau dan para tholabul ilmi


_____

(22)KH. Adnan adalah nama Kecil Simbah Yai Abu Dzarrin yang kemudian diganti setelah beliau menunaikan ibadah haji

(23)KH. Abu dzarrin lahir pada tanggal 12 shofar 1316 H. Yang bertepatan pada tahun 1898 M. didesa Sukorejo Bojonegoro Jawa Timur. Dari garis ayah beliau memiliki silsilah dengan Mbah Haji Umar Bin Adiman Bin Sanding Ibn Binti Walinoyorono, yang kesohor dengan nama Kyai Bedug, Jati Karas Sedan Rembang Walinoyorono, merupakan salah satu muridnya Sunan Cantrik, Babakan Lasem. Sedangkan Sunan Cantrik adalah murid Sunan Bonang. Adapun dari pihak sang ibu beliau ber ibukan Nyai Habibah Binti Mbah Haji Ali Bin Mbah Gati Binti Singojoyo Bin Eyang Buyut Singonoyo, salah seorang penyebar agama islam didaerah Bojonegoro dan sekitarnya, yang kini makamnya ada didesa Sukorejo. Beliau adalah putra pertama dari pasangan H. Umar dan Nyai Habibah. Beliau memiliki empat adik kandung, yaitu Bakri, Bakrun, Badrun, Dan Sahilah.


تومكا بيت كابيه إيكو ســـــــــــــأ تروسى ويويت بيت واغكغ غاجى هيغكا تروسى

موكا الله بالس باكوس لن سيه ولاس كابيه إيكــــــــــــو جـــــــــملاه أنا كالـــــيه ولاس 

Mulai bait واعكع sampai seterusnya menjelaskan bahwasanya jumlah yang disebutkan dalam kitab ini ada dua belas. Semoga allah memberikan imbalan yang setimpal yaitu berupa kasih dan sayangnya kepada kita semua


مُقَــــــــــدَّمٌ مُـــــــــؤَخَّــــرٌ تَخْتَصُّ إسْــــمٌ وَفِــــعْلٌ ثُمَّ عَـــــامٌّ خَاص

مُعَلَّقُ الْبَسْمَلَةِ الْمُسْتَعْمَلَا فَهَذِهِ الْمَذْكُوْرُ خُذْ أَنْ تُجْعَلَا



فَجُمْلَةُ مُعلّقِ الْبَسْمَلَةِ ثَمَانِيَةٌ ماخوذة مِنَ الْبَيْتِيْنَ وَهِىَ ضرب إِثْنَيْنِ وَهُمَا إسْمٌ وَفِعْلٌ


 فِى أَرْبَعَةٍ وَهِىَ خَاصٌ وَعَامٌ وَمُقَدّمٌ وَمُؤَخَّرٌ

Jumlah taaluq bismillah ada delapan yang diambil dari dua bait diatas

Dari delapan tersebut dibagi menjadi dua

1. berupa isim

2. berupa fiil

dari isim dan fi’il dibagi menjadi empat yaitu ‘am, khos, muqoddam, muakhor.

Jadi kesimpulanya 2x4 : 8


( الْجَدْوَلُ مُعَلَّقَاتُ الْبَسْمَلَةِ )

١- اسم خاص مقدم »»» تأليف بسم الله

٢- إسم خاص مؤخر »»» بسم الله تأليف

٣- اسم عام مقدم »»» إبتدائى بسم الله

٤- اسم عام مؤخر »»» بسم الله إبتدائى

٥- فعل خاص مقدم »»» أألفّ بسم الله

٦- فعل خاص مؤخر »»» بسم الله أألفّ

٧- فعل عام مقدم »»» إبتدائى بسم الله

٨- فعل عام مؤخر »»» بسم الله إبتدائى


( خَاتِمَةٌ نَاسْأَلُ اللهَ بِحُسْبِهَا )


مِنْ سَائِرِ الْحُرُوْفِ وَالْإِعْرَابِ وَأَسْأَلُ اللهَ عَلَى الصَّوَابِ


لَا يَخْلُوْ عَــــــــــــنْ خَطَاءٍ وَزَلَلٍ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ فِى كُلِّ حَالٍ

Kyai nadzim memohon kepada allah semoga kitab yang dikarang tersebut diberikan kebenaran pada setiap huruf dan i’robnya, karena manusia tidak lepas dari sifat salah dan lupa.


( تمت وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ )


   تَقَارِظُ الْكِتَابِ لابْنِ الْمُصَنِّفِ.


فَــــــلَازِمَــــــــنَّ مَــــــــــبَادِئَ االنَّحْـــــوِ وَإِنْ تُرِدْ عَلَى دُخُـــــــــوْلِ النَّحْـــــــوِ


مَمْزُوْجَةً بِنَظْمِ تَرْكِيْبِ الجَاوِى لِأَنَّـــهَــــا مُسَـــــــرَّةُ الْجَـــــــاوِى


أَبُوْ ذَرٍّ مُحَمَّد عَدْنَانِ الْجَاوِىْ جَمْعُهَا الشَّيْخُ النَّجِيْبُ الــــــرَّوِى

Minggu, 02 Februari 2020

Kabar Duka Menyelimuti Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang

Kabar duka datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur


KH Salahuddin Wahid. Pria yang akrab disapa Gus Sholah ini meninggal dunia di RS Harapan Kita, Jakarta.
"Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20:55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu...," tulis sepupu dari Gus Sholah, Irfan Wahid dalam akun twitternya, Minggu (2/2/2020).

Ipang Wahid menjelaskan, kesehatan Gus Sholah menurun sejak dua minggu lalu. Saat itu, Gus Sholah mengalami gangguan di organ jantung.

"Ada keluhan ritme jantung yang tidak beraturan," ujar dia.

Tim dokter yang merawat Gus Sholahmelakukan ablasi atau operasi untuk mengatasi gangguan irama jantung atau aritmia dengan menggunakan kateter yang dimasukkan ke dalam ruang dalam jantung

"Dilakukanlah ablasi semacam kateter untuk mengisolir elektromagnetik liar," ucap Irfan.

Operasi Berjalan Lancar
Dia mengatakan, tindakan yang dilakukan tim dokter berjalan lancar.

"Alhamdulillah sukses. Balik ke rumah beberapa hari kemudian lemas," ujar dia.

Dia menambahkan, kondisi kesehatan Gus Sholah mulai menurun drastis pada Jumat, 31 Januari 2020 kemarin.

"Jumat kemarin, Bapak drop banget. Sampai sekarang masih di RS," ujar dia tanpa menyebutkan nama rumah sakitnya.

Semoga amal ibadahnya diterima disisinya dan diampuni segala kesalahanya
Amiin...

Kamis, 14 November 2019

MENGAPA YANG DIPERINGATI ITU MAULIDNYA NABI KOK TIDAK HAULNYA NABI?

Mengapa yang di peringati itu maulidnya nabi kok tidak haulnya nabi? Karena sejatinya nabi itu tidak wafat melainkan marfu'un ila makanil 'ulya,

Nabi muhammad sendiri itu memilki irhas(tanda kenabian)baik sebelum di lahirkan maupun sesudah di lahirkan.Karena nabi Muhammad itu merupakan nabi yang d utus sebagai rohmatal lil'alamin, sebelum Allah menciptakan dunia ini Allah terlebih dahulu menciptakan  nur Muhammad, jadi Allah menciptakan dunia ini karena sebab Nabi SAW di ciptakan


kemudian ketika nabi mau di lahirkan, dunia ini menyambut dengan penuh kegembiraan,binatang binatang bersuka ria dan seluruh makhluk menyambut kelahiran nabi muhammad SAW itu sebelum irhas nabi sebelum di lahirkan.


Bahkan nabi ketika mau dilahirkan pun muncul irhas seperti siti aminah tidak merasakaan beban,nabi di lahirkan bersih dri darah,sudah di khitan,sudah di potong pusarnya dan di bidani oleh dewi asiyah dan dewi maryam


Setelah beliau di lahirkan banyak sekali irhas yang terjadi misal:siti halimah air susunya menjadi lancar,perekonomian beliau semakin pesat,dan hati nabi di cuci oleh para malaikat ketika nabi bermain bersama teman2 nya dan masih bnyak lagi,Itulah betapa agungnya Nabi SAW yang begitu bnyak kejadian yang tidak bisa di terima dengan akal manusia itulah kejadian yang perlu kita imani perlu kita kenang untuk menambah iman kita kepada Nabi,semoga kita semua di akui menjadi umatnya dan berhak mendapatkan syafaatnya Aamiiin ya robbal 'alamin

Rabu, 13 November 2019

AL MUNIRI BERSHOLAWAT DALAM RANGKA PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

Hadirilah
Almuniri bersholawat dalam rangka peringatan maulid nabi muhammad saw.
Bersama
Ust M. Luthfi Asrori dari Blora Jawa Tengah

Syi'ir Sejarah Al-Muniri

SYI’IR SEJARAH AL-MUNIRI Karya : Ahmad Nur Khozin (Kang O'IN) صَلَاةُ اللهِ سَلَامُ اللهِ عَلَى طَهَ رَسُولِ اللهِ صَلَاةُ اللهِ سَلَامُ...